Menteng, Jakarta - Indonesia

Mengoptimalkan Literasi Guna Tangkal Disinformasi dan Hoaks Seputar Vaksinasi

Oleh : Putu Prawira )* Hoaks dan infodemi seputar penanganan Covid-19 menjadi ancaman yang tidak dapat diremehkan karena dapat menghambat penanganan wabah tersebut. Masyarakat pun diminta untuk mewaspadai hoaks dan disinformasi dengan mengoptimalkan literasi publik. Di medsos seperti Facebook, rupanya sempat beredar kabar mengenai uji coba vaksin dari China, dimana dalam postingannya memuat narasi bahwa

Literasi Positif Mendukung Vaksin Covid-19

Oleh: Yoga Utama (Koordinator Forum Pegiat Media Sosial Independen Regional Kota Bekasi) Saat ini, hampir setiap negara mulai menjajaki program vaksinasi demi memerangi penyebaran Covid-19. Sayangnya, upaya ini masih terkendala oleh keraguan dan penolakan dari sebagian masyarakat. Studi membuktikan, faktor psikologis dan emosional memengaruhi sikap resistensi masyarakat terhadap vaksinasi ini. Maka dari itu, penting untuk

Menangkal Hoaks UU Cipta Kerja dengan Literasi Positif

Oleh : Alfisyah Kumalasari )* UU Cipta Kerja dibuat oleh pemerintah, demi kesejahteraan rakyat. Namun sayang kesuksesannya dibarengi oleh hoaks, yang sengaja disebarkan oleh oknum. Kita bisa tangkal hoaks dan ikut menyukseskan UU Cipta Kerja, dengan gerakan literasi positif. Gerakan ini bisa membuka mata masyarakat dan mengedukasi bahaya hoaks. Ketika internet mulai booming di Indonesia,

Dukung Vaksinasi Nasional Melalui Gerakan Literasi Positif

Oleh : Zainudi Zidan )* Vaksinasi covid-19 nasional sudah dimulai sejak januari 2021. Program ini harus berhasil, agar semua orang bisa bebas dari penyakit corona yang berbahaya. Untuk mensukseskan vaksinasi, maka hoaks harus diberantas. Tujuannya agar tidak ada yang terjebak berita palsu dan punya disinformasi vaksin, dan semua setuju untuk disuntik vaksin. Hoaks adalah berita

Literasi Nilai-Nilai Pancasila di Medsos Cegah Radikalisme

Oleh : Aldia Putra )* Organisasi radikal terus bergerilya walau statusnya telah dibubarkan. Mereka menggunakan media sosial untuk mencari mangsa baru. Untuk melawan propaganda ormas radikal, maka di media sosial perlu dilakukan literasi nilai pancasila. Tujuannya agar netizen tidak teracuni oleh radikalisme dan persatuan Indonesia tetap utuh. Masyarakat kita menggunakan media sosial tiap hari, bahkan

Aksi Literasi Media Dukung Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19

Oleh : Gracia Gunawan )* Keberhasilan program pemerintah dalam menangani corona tergantung pada sikap masyarakat. Sayangnya ada yang menolak untuk pakai masker dan bandel melanggar protokol kesehatan. Sikap oknum ini bisa dicegah jika ada aksi literasi di media publik, sebagai bentuk kampanye agar masyarakat mau mengikuti peraturan dan taat protokol. Durasi pandemi yang sangat lama

Literasi Warganet Menjadi Antibodi Menghadapi Bahaya Virus Radikalisme di Medsos

Oleh: Tegar Arifudin (Ketua Gerakan Literasi Terbit Regional Malang) Kemajuan Teknologi membawa berbagai implikasi yang cukup kompleks dalam kehidupan manusia dan hubungan antar negara. Semenjak maraknya pola komunikasi melalui dunia maya ataupun internet, batas-batas konvensional yang dulu dianut dan dipatuhi oleh kesepakatan internasional telah menjadi semu. Dengan jaringan yang saling berinteraksi di ruang maya kini,

Tetap Waspada dan Siaga Akan Bahaya Radikalisme di Medsos Saat Pandemi

Oleh: Reka Agustina (Ketua Gerakan Literasi Terbit Regional Jakarta) Pemerintah Indonesia telah menetapkan pandemi Covid-19 menjadi bencana nasional sehingga membutuhkan Gugus Tugas untuk Percepatan Penanganan. Namun kebijakan komprehensif pemerintah tampaknya masih menuai kritik bahkan resistensi dari berbagai elemen masyarakat, yang cenderung menuntut agar tegas menyikapi ancaman serius lain, yakni radikalisme. Dampak pandemi Covid-19 ini, menyebabkan

Literasi dan Patriotisme, Obat Virus Hoaks Covid-19

Oleh: Joko Waryono (Ketua Forum Pegiat Media Sosial Independen Regional Palembang) Informasi tentang Covid-19 selalu menjadi daya tarik tersendiri sehingga beragam berita berkaitan dengan virus ini selalu disuguhkan oleh media. Informasi Covid-19 selalu berubah dengan cepat, baik informasi positif yang bermanfaat bagi masyarakat maupun informasi negatif yang cenderung menyesatkan dan menjerumuskan masyarakat. Warganet menjadi sasaran