Menteng, Jakarta - Indonesia

Hubungan RI dan China Sangat Baik dan Kondusif

Jakarta – Permintaan untuk menghentikan kegiatan pengeboran minyak oleh pihak China kepada pemerintah Indonesia dinilai tidak tepat, dan cenderung berlebihan.

Capt Marcellus Hakeng Jayawibawa, Pengamat Maritim Indonesia dari Perkumpulan Ahli Keamanan dan Keselamatan Maritim Indonesia (AKKMI), mengatakan bahwa pengeboran atau pendirian rig di laut Natuna Utara itu masih berada di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

“Legal standing kita dimata dunia International terhadap Kepulauan Natuna sudah sangat clear, wilayah tersebut 100% milik Indonesia,” katanya, beberapa waktu lalu.

Menurut Capt Hakeng, bisa jadi Pernyataan pemerintah China tersebut didasari oleh klaim sepihaknya berupa garis imajiner di wilayah laut mereka atau kita mengenalnya dengan istilah 9 garis putus (9 Dash Line) di Laut China Selatan.

Menurutnya, China sebagai negara yang ikut meratifikasi UNCLOS seharusnya sadar bahwa yang dilakukan tersebut bertentangan dengan hukum internasional. Hal tersebut sebagaimana telah diatur di dalam UNCLOS, yakni kedaulatan suatu negara atau wilayah laut tertentu diukur berdasarkan jarak dari titik pangkal pulau terluar. Bukan berdasarkan ketentuan lain, termasuk latar belakang sejarah.

Namun di sisi lain, sinergi dengan terbentuknya kemitraan baru ekonomi ASEAN + China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru yang tergabung dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dapat membuka peluang strategis bagi negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia sebagai negara inisiator RCEP bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Indonesia dan kawasan.

Dalam menjalankan politik luar negeri RI Bebas Aktif yang konsisten bagi kesejahteraan bangsa dan dihadapkan pada tantangan pandemi Covid-19, hubungan Indonesia-China tetap berkembang pesat dan berjalan dengan baik.

Di tengah pandemi, kedua negara saling mendukung dan menyatukan upaya guna mengatasi dampak buruknya terhadap perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat. Berbagai pertemuan dan komunikasi tingkat tinggi dilakukan secara khusus demi mengamankan kepentingan strategis nasional masing-masing.

Beberapa hal yang disepakati dari komunikasi tersebut antara lain, penguatan kerja sama vaksin, travel corridor arrangement dan pemulihan ekonomi nasional, serta melanjutkan pembangunan strategis dan prioritas. Saat ini, diplomasi Indonesia di China tampak semakin kuat. Kedua negara terus berupaya membangun hubungan bilateral yang setara dan seimbang.