Menteng, Jakarta - Indonesia

Stakeholder Harus Memiliki Sense of Crisis Terkait Anggaran, Serta Meminimalkan Ego Sektoral

JAKARTA — Presiden Joko Widodo memberikan arahan tegas kepada seluruh jajarannya di Kabinet Indonesia Maju agar memiliki rasa kepekaan sosial dalam suasana pandemi ini. Imbauan Kepala Negara itu itu disampaikan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Usai menggelar rapat terbatas yang juga membahas perkembangan terkini penanganan pandemi Covid-19 dengan jajaran Kabinet Indonesia Maju.

“Presiden telah menegaskan bahwa dalam masa Pandemi Covid-19 ini tentunya sense of crisis seluruh kementerian/lembaga, para pemimpin itu harus ada,” ujarnya dalam keterangan pers yang disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, beberapa waktu yang lalu.

Terkait hal tersebut, Presiden melarang seluruh menteri maupun kepala lembaga untuk bepergian ke luar negeri jika tidak ada hal yang bersifat khusus serta tanpa ada izin dari Presiden. “Yang boleh bepergian ke luar negeri hanya Menteri Luar Negeri karena memang sesuai dengan bidang tugasnya.

Yang lainnya, kalau ada hal yang bersifat khusus harus mendapatkan izin secara langsung dari Bapak Presiden,” tegas Pramono.

Selain itu, dalam pemerintahan Indonesia Maju saat ini betul-betul tak membuka kompromi dengan sistem perencanaan dan penganggaran yang mementingkan ego sektoral dan tak fokus pada sasaran. Sinergi dan sinkronisasi menjadi kata kunci yang mesti dipegang agar pembangunan nasional kian efisien dan efektif.

Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan hal itu saat membuka rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, kemarin. Ia menegaskan tak mau mengulang lagi tradisi lama ketika banyak perencanaan dan penganggaran tidak sinkron. “Saya tekankan, hal seperti itu tidak boleh terjadi lagi.

Sudah sering saya sampaikan, sekarang bukan money follow function, melainkan kita harus money follow program,” ujar Presiden. Perencanaan, sambung Jokowi, harus terintegrasi, tekonsolidasi, terorganisasi antarsektor, antarwilayah, antara pusat dan daerah.

“Kita harus mulai berorientasi pada manfaat program kepada rakyat dan sejauh mana program itu bisa mendorong multiplier effect,” tandasnya. Jokowi juga mengingatkan pentingnya penganggaran fokus pada prioritasnya. (*)