Menteng, Jakarta - Indonesia

Pembangunan Infrastruktur Untuk Kemakmuran Daerah di Indonesia

Jakarta – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima mengatakan, hampir 75 persen dari industri semen nasional merupakan semen hasil produksi PT Semen Gresik. Untuk itu, PT Semen Gresik harus dapat mempertahankan pasar semen nasional melalui peningkatan ekspansi produksi dan memanfaatkan peluang dari pembangunan-pembangunan infrastruktur.

“Kita berharap pasca recovery Covid-19 ini, infrastruktur terus dipacu sehingga dapat menjadi peluang pasar yang demikian besar bagi industri semen, dan dapat memicu optimisme pertumbuhan konsumsi semen di PT. Semen Gresik,” jelas Aria dalam paparannya memimpin Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR ke PT Semen Gresik, Jawa Timur, Kamis (30/9/2021) yang lalu.

Aria yakin bahwa pertumbuhan konsumsi semen yang saat ini sudah meningkat sebanyak 4 persen ini akan tetap mengambil dari produksi semen dalam negeri, khususnya PT Semen Gresik. Ia optimis Semen Gresik akan tetap menjadi menjadi leading dalam konteks memenuhi kebutuhan semen nasional. “Khususnya menyelesaikan beberapa hal-hal yang kemarin sempat tersendat karena pandemi Covid-19 dalam hal pembangunan infrastruktur,” tambah Aria.

Di sisi lain, ia meminta PT Semen Gresik memberikan data audit tentang kebutuhan semen nasional dan kemampuan produksi semen yang ada di Indonesia. “Jangan sampai lonjakan-lonjakan yang dianggap meningkatkan berbagai produksi nasional semen di Indonesia ini, tidak dibarengi dengan demand/permintaan yang cukup signifikan, karena hal tersebut dapat menjatuhkan harga semen dan tidak begitu membuat efektif industri semen,” jelas Aria.

Aria menambahkan, Komisi VI berkomitmen memberikan dukungan yang terbaik bagi PT Semen Gresik. “Agar PT. Semen Gresik dapat melihat peluang besar pasar, khususnya dalam pembangunan-pembangunan infrastruktur di masa pemulihan perekonomian akibat pandemi Covid-19,” tandas Aria.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Semen Gresik Subhan mengatakan, pangsa pasar semen memang cukup besar, akan tetapi pasokan yang harus dipenuhi juga banyak. “Kita harus mencermati dan memahami bagaimana tahapannya agar bisa membaca pergerakan semen dari sisi konsumsi maupun produksi,” jelas Subhan. (*)