Menteng, Jakarta - Indonesia

Masyarakat Harus Tetap Waspada Terhadap Bahaya Penularan Covid-19

Ahli Biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dr Iwan Ariawan menyatakan cakupan vaksinasi yang tinggi dapat menekan kasus COVID-19, menjadikan situasi pandemi ke endemi.

“Banyak negara melonggarkan setelah cakupan vaksinasi 80 persen, karena itu yang paling bisa dilihat, sekian persen penduduk punya kekebalan dan angkanya bisa dikontrol,” ujar Iwan dalam gelar wicara “Waspada Gelombang Ketiga: Bijak Bepergian Cegah Penularan” secara daring di Jakarta, (29/9/2021).

Selain itu cara menekan kasus COVID-19 dengan mematuhi protokol kesehatan dan testing serta tracing yang tinggi dari pemerintah, serta masyarakat yang mau diisolasi dan di-tracing jika kemungkinan terpapar. Saat kasus tersebut menjadi endemi, Iwan mengatakan tidak bisa mengharapkan kasus COVID-19 hilang, namun setidaknya dapat membuka aktivitas yang selama ini mengalami pembatasan.

Oleh karenanya sebisa mungkin skenario terjelek adanya gelombang ketiga COVID-19 tidak terjadi, agar aktifitas tetap berjalan. Selain itu, penekanan kasus COVID-19 tersebut juga akan mempengaruhi hubungan diplomatik yang baik dengan negara tetangga.

“Termasuk perbatasan internasional. Jika sudah rendah, kita bisa punya hubungan internasional dengan negara tetangga jika vaksinasi sudah baik,” kata Iwan.

Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr. Reisa Broto Asmoro menegaskan, vaksinasi COVID-19 menjadi syarat penting untuk menjalani proses transisi dari pandemi menjadi endemi.

“Maka itu pencapaian target cakupan vaksinasi harus tercapai, karena vaksinasi sudah terbukti melindungi kita dari sakit parah yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan menekan angka kematian,” ujarnya.

Selain mencapai sasaran cakupan, lanjut dia, pemerataan capaian vaksinasi COVID-19 pun harus diperhatikan terutama pada sasaran kelompok lanjut usia (lansia).

“Meski sasaran untuk kategori SDM kesehatan dan petugas pelayanan publik sangat tinggi, namun kategori lansia belum mencapai 30 persen atau kurang dari 6 juta lansia yang baru menerima dosis pertama,” katanya.

Reisa mengemukakan, sementara lansia yang sudah mendapatkan vaksinasi lengkap baru sekitar 4 juta lebih atau kurang dari 20 persen dari sasaran yang ditetapkan, yaitu 21,5 juta jiwa.

“Jadi mari kita fokus membantu vaksinasi COVID-19 merata di semua kelompok masyarakat agar semakin banyak berita gembira yang kita dapatkan sebagai buah kerja keras kita bersama ini,” tegasnya.

Reisa juga mengimbau agar masyarakat harus mulai membiasakan diri hidup berdampingan dengan COVID-19. Hal tersebut penting agar masyarakat tidak memiliki euforia yang berlebihan dan tetap waspada terhadap bahaya COVID-19 yang setiap saat bisa menyerang.

“Karena Covid-19 sepertinya belum bisa benar-benar hilang, maka jalan terbaiknya adalah bagaimana kita membiasakan diri hidup berdampingan dengan Covid-19,” katanya.

Salah satu caranya, lanjut Reisa, mensukseskan program vaksinasi yang diselenggarakan pemerintah, menerapkan protokol kesehatan untuk pencegahan penularan COVID-19, terutama menggunakan masker, serta melakukan protokol pencegahan lainnya, seperti mencuci tangan dan menjaga jarak.

“Penerapan protokol kesehatan harus terus dilakukan agar terhindar dari paparan Virus Covid-19,” katanya. (**