Menteng, Jakarta - Indonesia

Melawan Propaganda Kelompok Separatis dan Teroris Papua

Oleh : Timotius Gobay )*

Masyarakat Papua menolak Keberadaan Kelompok Separatis dan Teroris (KST) karena terus melakukan propaganda untuk membenarkan aksi brutal mereka. Rakyat pun diminta waspada dan ikut melawan kabar bohong yang semuanya berisi hoaks.

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) menghembuskan propaganda agar warga sipil berbalik menjadi pendukung mereka. Masyarakat diminta untuk memakai logika dan mengabaikan propaganda tersebut, karena sama sekali salah. KST memang sengaja membuatnya untuk membuat keadaan seolah-olah ada benturan antara pemerintah dengan rakyat, padahal tidak pernah ada.

Propaganda makin gencar ditiupkan oleh KST, apalagi jelang pelaksanaan PON XX. Tujuannya agar ada perang psikologis antara mereka dengan aparat, dan diharap nantinya warga sipil jatuh simpati kepada OPM dan KST. Padahal propaganda itu salah besar karena hanya hoaks dan kepalsuan yang disebarkan oleh mereka.

Salah satu propaganda yang pernah beredar di tengah masyarakat Papua adalah isu penghabisan ras Melanesia. Pemerintah Indonesia patut dijauhi karena mereka anti dengan orang asli Papua (OAP) yang merupakan ras Melanesia. Propaganda ini sengaja disebarkan dengan tujan ada bentrokan antar suku, karena rata-rata aparat adalah pendatang dari pulau lain.

Selain itu, KST juga menebar propaganda berupa berita tentang aparat yang menembaki banyak warga sipil Papua. Padahal kenyataannya mereka sendiri yang melakukan penembakan keji, bukannya aparat. Bahkan KST tega menjadikan masyarakat yang tidak bersalah sebagai ’tameng hidup’ saat ada adu tembak dengan anggota TNI.

Sebby Sambom, pentolan KST, juga pernah ketahuan menyebarkan propaganda berupa korban baku tembak yang masih remaja. Padahal setelah dicocokkan, pria itu tenryata berusia 35 tahun. Jadi tidak benar jika aparat menembak remaja yang tidak bersalah.
Untuk mencegah menyebarnya propaganda maka BNPT melakukan pendekatan soft approach, sehingga seluruh rakyat Papua memiliki rasa cinta yang tinggi terhadap Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Ketua BNPT Irjen Pol Boy Rafli Amar. Dalam artian, pendekatan yang halus lebih mengena daripada yang keras, karena masyarakat merasa diayomi oleh aparat.

Cara untuk soft approach dilakukan dengan menggunakan pembangunan kesejahteran rakyat Papua, salah satunya dengan otonomi khusus. Ketika dana otsus cair maka akan ada banyak proyek yang berlanjut. Selain itu, anggaran otsus juga dirupakan beasiswa. Sehingga masyarakat sadar bahwa pemerintah amat memperhatikan nasib rakyat Papua, sehingga muncul rasa nasionalisme di dalam dirinya.

Untuk mencegah meluasnya propaganda maka bisa digunakan beberapa cara: pertama, bisa bekerja sama dengan pengelola media sosial. Sehingga ketikaada hoaks dan propaganda yang beredar di sosmed, bisa langsung di-take down karena melanggar standar komunitas. Jika bisa, maka akun milik KST juga dibekukan oleh pengelola sosmed, baik di Facebook maupun Twitter.

Sedangkan yang kedua, untuk mencegah tersebarnya propaganda maka caranya dengan menggandeng ahli IT. Mereka bisa tahu di mana posisi anggota KST saat membuka sosmed, karena tahu IP address-nya. Sehingga bisa dilakukan penelusuran tempat dan bekerja sama dengan aparat, untuk melakukan penangkapan. Jika anggota KST tertangkap maka tidak bisa lagi membuat propaganda yang menyesatkan.

Yang ketiga, masyarakat perlu diedukasi untuk membedakan mana berita asli, mana yang hoaks, dan mana yang propaganda. Sehingga jika ada yang sudah terlanjur menyebar di sosmed dan grup WA bisa dihapus, ketika ketahuan bahwa itu hanya propaganda. Waspadalah ketika ada berita yang menghebohkan dan judulnya click bait, karena bisa jadi itu hoaks yang sengaja dibuat oleh KST.

Untuk melawan KST maka diperlukan berbagai cara, termasuk psikologisnya. Saat mereka melakukan psy war dan menembakkan hoaks dan propaganda, maka aparat mengimbau warga untuk tidak langsung percaya. Silakan cek dulu di Google tentang kebenarannya dan jangan langsung disebar, karena jadinya Anda turut mempopulerkan propaganda tersebut.

)* Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo