Menteng, Jakarta - Indonesia

Mengutuk Aksi Teror KST Papua Jelang PON XX

Oleh : Moses Waker )*

Masyarakat mengecam serangan teror Kelompok Separatis dan Teroris (KST) jelang pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX di Papua. Masyarakat pun mendukung tindakan tegas TNI/Polri terhadap kelompok tersebut.
Jelang PON XX, keamanan makin diperketat agar tidak ada kerusuhan yang mengganggu pembukaannya. Aparat makin rajin berjaga dan mengantisipasi, agar tidak ada anggota KST maupun KNPB yang akan mengacaukan acara. PON XX harus berhasil 100% dan tidak boleh dibubarkan karena ulah kelompok separatis.

Untuk pertama kalinya, PON diselenggarakan di Papua. Tak heran masyarakat begitu antusias dan ingin agar acara ini berlangsung dengan lancar. Pemilihan Papua sebagai tuan rumah adalah sebuah anugerah, karena warga di Bumi Cendrawasih dipercaya oleh pemerintah pusat.
Namun sayang jelang pembukaan PON tanggal 2 Oktober 2021, ada beberapa ancaman, baik dari KST (kelompok separatis dan teroris) maupun KNPB (Komite Nasional Pembebasan Papua Barat). Mereka diprediksi akan mengacaukan PON, karena mencari perhatian dari dunia internasional. Penyebabnya karena ingin memerdekakan diri lalu ingin mendapat dukungan dari negara lain.

Serangan pertama dilakukan oleh KNPB yang melakukan demonstrasi pada Agustus lalu. Unjuk rasa yang berlangsung di Jayapura berlangsung ricuh, karena ada pendemo yang nekat memukul aparat. Acara ini langsung dibubarkan oleh petugas, karena melanggar PPKM level 4, dan memang demo saat pandemi tidak diperbolehkan. Sebelum PON, aktivitas apapun yang berbahaya, termasuk unjuk rasa, harus dicegah secepatnya.

Selain KNPB, KST juga berulah kembali dengan menyerang Posramil di Maybrat. Dalam peristiwa tragis itu 4 orang prajurit TNI gugur dalam tugasnya. KST bertindak licik dengan menyerang pada dini hari sehingga ada korban jiwa. Masyarakat langsung mengecam KST dan berharap agar mereka lekas dibubarkan, dan ditangkap para anggotanya oleh Satgas Nemangkawi.

Untuk mengantisipasi agar KST maupun KNPB tidak membuat ulah lagi jelang PON XX, maka diadakan berbagai strategi. Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal menyatakan bahwa Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Papua mengantisipasi setiap kemungkinan terburuk dan menjaga agar tidak ada kerusuhan pra maupun pasca PON XX.
Kombes Ahmad melanjutkan, ancaman utama di Papua adalah gangguan dari KST, dan perlu juga diantisipasi demo yang ditunggangi KNPB. Mereka ingin menggagalkan atau membuat rusuh saat PON XX diselenggarakan. Akan ada antisipasi dengan program simulasi sistem pengamanan kota.

Dengan simulasi tersebut maka diharap keadaan di Papua dan Papua Barat akan makin kondusif. Razia akan dipersering dan penjagaan akan diperketat, sehingga meminimalisir resiko. Jangan sampai anda anggota KST yang lolos lalu mengacaukan lomba-lomba saat PON XX berlangsung.

Razia sangat penting karena untuk mencegah adanya anggota KST yang berkeliaran di jalanan maupun di dekat arena PON XX. Jangan sampai mereka bisa keluyuran lalu membuat teror di tengah masyarakat, dan mengganggu persiapan pembukaan PON. Segala gangguan harus diantisipasi, agar nanti PON XX berjalan dengan lancar.

Selain KST, kita juga mewaspadai akan ada demo selanjutnya. Masalahnya, unjuk rasa ini memprotes kebijakan pemerintah tetapi akhirnya dibonceng oleh KNPB. Padahal mereka bisa saja memprovokasi lalu mengajak pendemo yang sedang emosi, untuk ikut memerdekakan Papua. Sangat melenceng dari tujuan unjuk rasa pada awalnya.

Serangan KST patut dijadikan peringatan, agar jangan sampai ada peristiwa selanjutnya, yang bisa mengganggu persiapan PON XX. Aparat makin ketat dalam berpatroli, agar nantinya PON berjalan tanpa kendala. Keselamatan para atlet dan offisial dari provinsi lain harus diutamakan.

PON XX tinggal beberapa minggu lagi dan para aparat di Papua makin rajin melakukan razia. Tujuannya agar tidak ada kelompok teroris yang ingin mengacaukan acara ini. Ketika Papua ditunjuk sebagai tuan rumah, maka aparat berkomitmen penuh agar lomba ini terselenggara dengan baik.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali