Menteng, Jakarta - Indonesia

Vaksinasi dan Prokes Percepat Kebangkitan UMKM

Oleh : Tria Kusuma )*

UMKM adalah salah satu sektor yang paling terdampak saat pandemi. Untuk membangkitkan kembali sektor UMKM, maka ada 2 cara, yakni vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan yang ketat, sehingga semua akan sehat dan aman dari Corona.

Pandemi Covid-19 yang kita lalui selama hampir 2 tahun membuat banyak orang oleng karena kemampuan finansialnya turun drastis. Terutama bagi pebisnis UMKM, karena usaha jadi sangat sepi. Penyebabnya karena daya beli masyarakat yang menurun, dan mereka sengaja menahan uang untuk membeli hanya kebutuhan pokok saat pandemi.

UMKM akhirnya mulai keteteran dan mereka tidak bisa hanya mengandalkan BLT dari pemerintah, karena uang itu bisa habis untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan untuk jangka panjang tentu ada strategi khusus agar mereka bisa survive di tengah pandemi. Sehingga usahanya akan selamat dari ancaman gulung tikar.

Untuk mempercepat kebangkitan UMKM maka ada 2 strategi yang mumpuni, yakni vaksinasi covid dan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Jika pandemi bisa dikendalikan dan aktivitas penduduk berangsur normal, maka ekspektasi pelaku UMKM dapat meningkat secara cepat. Hal ini diungkapkan oleh Anton Hendranata,Direktur Riset BRI Research Institute.

Anton menambahkan, harapan dan ekspektasi pelaku UMKM sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dalam mengatasi pandemi dan menekan penyebaran virus corona. Dalam artian, kesehatan finansial UMKM memiliki relasi kuat dengan aturan-aturan pemerintah untuk mengendalikan virus covid-19, seperti vaksinasi dan protokol kesehatan.

Selama ini vaksinasi memang digencarkan pemerintah dan targetnya ditingkatkan menjadi 2 juta suntikan per harinya, sehingga diharap pada 2022 seluruh WNI sudah diinjeksi. Ketika sudah divaksin maka akan terbentuk kekebalan kelompok dan bisa bebas dari status pandemi. Sehingga kehidupan berjalan dengan normal, begitu pula daya beli masyarakat.

Saat masyarakat sehat maka bisa bekerja lagi dengan semangat dan pendapatannya berangsur naik, sehingga diharap daya beli juga ikut naik. Saat daya beli naik maka UMKM yang diuntungkan karena penjualan juga naik. Dengan catatan, mereka menyesuaikan diri dengan keadaan alias lebih bermain di pasar online, karena saat ini sudah serba digital.

Pelaku UMKM juga wajib divaksin karena meningkatkan rasa aman oleh pembeli yang datang ke toko secara langsung. Dengan vaksinasi maka akan memperkecil penularan corona dan menyehatkan tubuh para pebisnis UMKM. Mereka akan memiliki kekebalan tubuh yang baik, sehingga aman dari serangan virus covid-19, dengan catatan harus menjaga gaya hidup sehat.

Selain vaksinasi maka cara lain untuk mempercepat kebangkitan UMKM adalah dengan memperketat protokol kesehatan. Sayang sekali saat ini ada yang mulai kendor dan malas-malasan memakai masker, padahal corona varian delta bisa menular hanya dengan berpapasan dengan OTG. Sehingga masih harus wajib pakai masker, dan pelaku UMKM sebaiknya memberi bonus berupa masker agar makin banyak yang sadar prokes.

Selain itu,patuhi juga poin dalam protokol kesehatan lainnya seperti menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Terutama dalam menghindari kerumunan. Pelaku UMKM wajib untuk menjaga tokonya agar tidak ada penumpukan pengunjung dengan penjagaan yang ketat, begitu pula dengan pemilik warung, harus tegas membatasi dine in.

Untuk mengakali berkurangnya pengunjung maka bisa dengan cara promosi online atau bekerja sama dengan perusahaan ojek, sehingga lebih menggencarkan di lini delivery order. Yakinlah bahwa rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, sehingga tanpa ada dine in sekalipun, pesanan akan terus mengalir.

Untuk mempercepat kebangkitan UMKM dan mencegah mereka dari ancaman kebangkrutan, maka pemerintah makin menggencarkan prokes 10M dan vaksinasi. Sehingga semuanya sehat dan semangat bekerja, dan daya beli masyarakat kembali naik. Mereka akan kembali memborong produk UMKM dan menjalankan lagi roda perekonomian negara dengan kencang.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute