Menteng, Jakarta - Indonesia

Radikalisme dan Terorisme Masih Menjadi Ancaman Bersama

Oleh : Muhammad Yasin )*

Radikalisme dan Terorisme rupanya menjadi ancaman yang serius bagi bangsa Indonesia, paham tersebut dapat tersebar secara senyap menembus dinding logika manusia yang terpapar paham ekstrim.

Belum lama ini, belasan orang terduga teroris juga telah diamankan di Papua, Karopenmas Div Humas Polri, Brigjen Rusdi Harton menyebutkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui jika belasan orang terduga teroris yang diamankan di Papua baru terpapar paham radikal setelah pindah ke Merauke.

Rusdi menuturkan bahwa belasan teroris tersebut bukanlah orang asli Papua, mereka terpapar usai pindah dan menetap di Merauke. Barulah mereka membangun kelompok-kelompok kecil untuk menyebarkan paham radikal yang diketahui terafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Perlu diketahui bahwa merka ternyata masih satu jaringan JAD yang dikembangkan dari Makassar, dimana jaringan tersebut melebar pula sampai Kalimantan Timur.

Sebelumnya, Operasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror terhadap penangkapan sejumlah terduga sel jaringan teroris di Merauke, Papua terus bertambah menjadi 13 orang. Kapolres Merauke AKBP Untung Sangaji mengatakan kemungkinan angka tersebut masih bertambah.

Selain menangkap belasan teroris, Densus 88 juga mengamankan berbagai barang bukti. Penangkapan teroris tersebut rupanya diawali dengan ditangkapnya 10 orang setelah sebelumnya terindikasi melakukan pemboman di Merauke, namun gagal.

Pada kesempatan berbeda, Politisi Ferdinand Hutahaean merespons pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mewaspadai ekspansi ideologi transaksional radikal. Menurut dia, hal tersebutlah yang membuatnya semakin mendukung langkah pemerintah.

Ferdinand mengatakan secara tegas, bahwa radikalisme memang harus dibasmi dari muka bumi pertiwi.

Sebelumnya, Presiden Jokowi saat memimpin upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 2021 dari Istana Kepresidenan, Bogor, Selasa, 1 Juni 2021, menekankan sejumlah tantangan yang dihadapi bangsa untuk menanamkan secara kuat nilai-nilai Pancasila dalam diri masyarakat.

Menurutnya, upaya ini memang tidak ringan di tengah pesatnya globalisasi, kemajuan teknologi dan interaksi dunia.

Menurutnya, di era globalisasi saat ini dan cepatnya interaksi antar belahan dunia, tidak serta merta meningkatkan kesamaan pandangan dan kebersamaan. Namun, juga menimbulkan berbagai tantangan yang harus diwaspadai, termasuk mengenai ideologi.

Jokowi berujar, yang harus diwaspadai adalah meningkatnya rivalitas dan kompetisi termasuk rivalitas antarpandangan, rivalitas antar nilai-nilai dan rivalitas antar ideologi.

Jokowi juga menekankan, perkambangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah mempengaruhi lanskap kontestasi ideologi. Hadirnya revolusi industri 4.0 menimbulkan kemudahan dalam berdialog, dalam berinteraksi, dan dalam berorganisasi menggunakan skala besar lintas negara.

Perkembangan konektivitas 5G yang melanda dunia juga membuat interaksi antara berbagai masyarakat juga semakin mudah dan cepat.

Bahkan menurut Jokowi, kecepatan ekspansi ideologi transnasional radikal dalam era disrupsi teknologi ini bisa melampaui standar normal.

Oleh karena itu, Presiden mengingatkan bahwa saat ini perluasan dan pendalaman nilai-nilai Pancasila tidak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa. Segenap bangsa memerlukan cara-cara baru yang luar biasa dan mampu mengoptimalkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama revolusi industri 4.0.

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut juga menegaskan, bahwa Pancasila harus menjadi fondasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkeindonesiaan.

Jika Pancasila telah menjadi fondasi dalam diri setiap Warga Negara Indonesia, tentu tidak akan ada aksi terorisme ataupun penyebaran paham radikal, karena Pancasila memberikan semangat bersatu dalam perbedaan dan bersama dalam keberagaman tanpa ada permusuhan.

Sementara itu, di Palembang seorang Polisi Bripka Ridho harus dilarikan ke Rumah Sakit setelah ditusuk oleh seseorang yang mengaku dirinya teroris.

Dalam reka kejadian, pelaku mengaku secara sengaja mendatangi korban yang sedang duduk sendirian di dalam pos. Dirinya juga berpura-pura bertanya di mana alamat Rumah Sakit Bunda.

Saat Bripka Ridho menolah kearah lain, sang pelaku kemudian mengambil pisau lalu menusukkan benda taham tersebut di bagian leher korban.

Ketika pelaku berhasil diamankan, dirinya mengaku sebagai seorang teroris, sehingga petugas akhirnya memborgol dan membawanya ke Mapolda Sumsel.

Motif penusukan tersebut belum diketahui, namun sudah bisa dipastikan bahwa pelaku telah terpapar paham radikal sampai dirinya memiliki rasa tega untuk membunuh aparat keamanan.

)* Penulis adalah warganet aktif dalam Pertiwi Institute