Menteng, Jakarta - Indonesia

Mewaspadai Kebangkitan Kelompok Radikal

Oleh : Muhammad Zaki )*

Kelompok-kelompok radikal memang sudah lama dibubarkan di Indonesia tetapi kita perlu mewaspadainya. Pasalnya, mereka bisa saja bangkit secara diam-diam dan melancarkan aksi, utamanya pasca pengambilalihan kekuasaan di Afganistan oleh kelompok Taliban.
Indonesia adalah negara majemuk dan kita paham bahwa negeri ini memang terdiri dari banyak suku dan kepercayaan. Pancasila sudah mencakup semuanya, terutama persatuan negara. Sehingga sejak dulu kita selalu menenggang rasa dan memahami perbedaan, serta tidak memaksakan pendapat.

Akan tetapi kelompok radikal memiliki pemikiran yang jauh berbeda. Mereka selalu memaksakan pendapat dan tidak menyukai adanya perbedaan, serta selalu mengkampanyekan ideologi khilafiyah. Padahal di negara multi keyakinan seperti Indonesia, mustahil untuk mempercayai ideologi tersebut karena keadaan masyarakatnya yang bermacam-macam.

Beberapa kelompok radikal seperti FPI dan HTI sudah dibubarkan oleh pemerintah dan izin resminya tidak akan pernah diberikan oleh Kementrian Hukum dan HAM. Penyebabnya karena mereka mencederai ideologi pancasila dan tidak setia pada negara. Mereka juga melakukan tindakan ekstrim seperti demo pro khilafiyah, sweeping di warung tanpa izin, dan pembubaran keramaian di tempat hiburan dengan semena-mena.

Meski sudah dibubarkan, kita patut mewaspadai kebangkitan kelompok radikal. Pasalnya mereka bisa saja muncul kembali dengan nama yang berbeda dan melanjutkan misinya lewat jalur gerilya di dunia maya. Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin meminta masyarakat waspada dengan kelompok intoleran. Penyebabnya karena mereka menggunakan berbagai kedok untuk mengelabui banyak orang.

Ngabalin melanjutkan, kita perlu mengambil pelajaran penting dari peristiwa di Afghanistan ketika Taliban bertindak sangat brutal. Jangan sekali-kali lengah dan harus tetap waspada. Dalam artian, jangan sampai kelompok radikal nekat berbuat curang seperti Taliban dan akhirnya Indonesia jadi porak-poranda. Penyebabnya karena mereka bisa saja menggunakan berbagai cara negatif demi mendapatkan keinginannya.

Mengapa kelompok radikal dihubungkan dengan Taliban? Penyebabnya karena mereka sama-sama memiliki ideologi untuk membangun negara khilafiyah dan langkah-langkah yang diambil juga serupa. Misalnya dengan memaksakan kehendak, melakukan penembakan dan juga pengeboman.
Kita tentu tidak ingin keadaan Indonesia jadi seperti Afghanistan yang hancur-lebur, bukan? Oleh karena itu semua orang wajib mewaspadai kebangkitan kelompok radikal. Pertama, jika ada akun media sosial yang mencurigakan, misalnya selalu mem-posting tentang ekstrimisme, khilafiyah, dll, segera laporkan pada polisi siber. Mereka akan mengusutnya dan mengetahui siapa dalang di balik akun radikal tersebut.

Kedua, jangan terlalu percaya jika ada seminar yang berembel-embel gratis dan cari tahu dulu siapa pengisi acaranya. Jangan-jangan ini hanya tipu muslihat dari kelompok radikal dan ternyata di tengah-tengah seminar ada penjelasan tentang mereka. Takutnya nanti ada sesi brain wash dan makin banyak orang yang terpengaruh radikalisme.

Sedangkan yang ketiga, di sekolah dan universitas perlu ditambahkan pelajaran tentang nasionalisme dan anti radikalisme. Mereka perlu diajarkan tentang rasa cinta terhadap para pahlawan dan juga tanah air, sehingga jika ada rayuan dari kelompok radikal tidak akan terkena.

Terakhir, ketika akan memasukkan anak ke sebuah sekolah, harus survey dulu dengan teliti. Jangan sampai ternyata sekolah itu miliki kelompok radikal sehingga anak-anak diajari kebencian dan intoleransi sejak dini. Sungguh mengerikan.

Kebangkitan kelompok radikal wajib kita waspadai agar negeri ini tidak kacau seperti di Afgaistan. Orang tua juga wajib mengawasi agar jangan sampai anak-anak terpengaruh karenanya. Kita wajib menanamkan rasa cinta tanah air pada mereka sejak dini dan juga ajaran bahwa perbedaan itu indah.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini