Menteng, Jakarta - Indonesia

Waspadai Provokasi Konten Negatif dan Kontra Produktif di Masa Covid-19

Kemampuan menjaga diri dengan skill dan literasi sudah menjadi kebutuhan setiap pengguna internet agar terhindar dari pengaruh konten negatif yang berseliweran di ruang digital dewasa ini. Namun, skill saja tak akan cukup jika tak dibarengi dengan adab dan kesopansantunan saat berinteraksi di ruang digital.

“Kemampuan menjaga diri dan adab itu perlu karena jika kita terpapar konten negatif bisa langsung memfilternya, memilahnya, dan tak mengikutinya,” kata Ahmad Faridi Kepala Kantor Kemenag Wonosobo, Jawa Tengah saat menjadi pembicara webinar literasi digital bertema ‚ÄĚSopan dan Beradab Berdigital di Masa Covid-19,” yang digelar Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Wonosobo, Kamis (12/8/2021).

Ahmad Faridi menguraikan konten negatif atau konten ilegal merupakan informasi yang memiliki muatan kontra produktif dan di luar norma-norma sosial yang dianut masyarakat.

Konten negatif itu, ujar Faridi, bisa berupa informasi yang melanggar norma kesusilaan, juga perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik, pemerasan dan atau pengancaman yang terjadi di ruang digital.

“Konten negatif juga bisa meliputi penyebaran berita bohong atau hoaks yang menyesatkan, yang bisa fatal karena berpotensi menyebabkan konflik antar agama, manusia, suku, kelompok, ras, etnis dan konflik yang ujungnya menyebabkan perpecahan suatu bangsa atau pengguna digital itu sendiri,” ujarnya.

Dampak bahaya konten negatif ini bukan hanya dari hoaks. Tapi juga memicu terorisme, radikalisme sampai pornografi yang kini menjadi momok yang tengah sengit dibendung oleh pemerintah Indonesia.

Ahmad Faridi menambahkan, mengantisipasi perilaku negatif di ruang digital dapat ditempuh dengan dua cara. Pertama, penghargaan pada diri sendiri, dan kedua penghargaan pada orang lain.

“Penghargaan pada diri sendiri akan menjaga kepentingan kita di dunia digital. Sikap menghargai diri sendiri juga akan mendorong kita menciptakan rekam jejak digital yang baik, bukan sebaliknya, karena sadar bahwa di masa depan jejak digital itu akan sulit terhapus,” tegas Faridi.

Ditambahkan, penghargaan pada diri sendiri juga akan mencegah kita tidak mengekspos hal-hal yang tidak pantas di dunia maya. Tak terkecuali data pribadi yang rawan disalahgunakan.

Sedangkan prinsip penghargaan kepada orang lain, salah satunya dalam bentuk tidak menyebarkan konten negatif. “Penghargaan pada orang lain terwujud pula dengan tidak menyebar hoaks serta tidak menyebarkan foto kekerasan, korban kecelakaan dan sejenisnya,” urai Faridi.

Ahmad Faridi menguraikan, melawan konten negatif juga bisa dilakukan dengan mendorong masyarakat untuk semakin sadar dan memahami adanya konten negatif itu lalu diberikan pemahaman dan cara bagaimana memperlakukan konten itu.

“Melawan konten negatif menjadi tanggung jawab seluruh pengguna ruang digital, tanpa kecuali. Fenomena hoaks terjadi di era teknologi saat ini membuat masyarakat memiliki kemudahan dalam mengaksesnya,”.

Ahmad Faridi juga mengatakan pemuda saat ini adalah calon-calon pemimpin masa depan.

“Sebagai calon pemimpin, pemuda dituntut bisa seimbang antara intelektualitas dan moralitasnya. Harus menyesuaikan zaman, karena pintar saja tak berguna bila tanpa moral, begitu juga sebaliknya,” tegas Ahmad Faridi.

Jadi dengan kondisi seperti sekarang ini, hendaknya masyarakat secara bijak menggunakan sarana digital di masa Pandemi Covid-19 ini. Mewaspadai segala bentuk informasi dan tidak mudah terpancing oleh provokasi dari kelompok yang tidak ingin Indonesia bangkit.

Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai kelompok yang memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 untuk agenda politik yang justru akan menyusahkan rakyat. Untuk itu, seluruh elemen perlu berkolaborasi bekerjasama, agar rakyat dapat kembali bekerja dan Indonesia segera bangkit, karena hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama. (**)