Menteng, Jakarta - Indonesia

Mewaspadai Manuver KST Papua Menghambat PON XX

Oleh : Rebecca Marian )*

Pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX tinggal menghitung hari. Namun demikian, masyarakat dan aparat keamanan diminta untuk mewaspadai manuver Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua yang dapat menghambat kegiatan nasional tersebut. 

Pada 2-15 Oktober 2021, Indonesia akan menggelar hajat besar berupa perhelatan berupa Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua. Perhelatan even tersebut tentu tidak tanpa kecaman. Di mana event multicabang tersebut akan dibayangi oleh Kelompok Separatis Teroris (KST).

Mengantisipasi teror KST tersebut, Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Korgabwilhan) III telah melakukan koordinasi dengan jajaran Kodam XVII/Cenderawasih dan Kepolisian Daerah Papua guna memastikan PON agar dapat berjalan dengan aman.

            Letjen TNI Agus Rohman selaku Panglima Kogabwilhan III menuturkan, kekuatan pasukan TNI/Polri di Papua kini memadai untuk menjamin penyelenggaraan PON XX berlangsung aman. Khusus di Timika yang menjadi salah satu subklaster penyelenggara PON XX untuk beberapa cabang olahraga, Letjen Agus juga menjami kesiapan pasukan TNI/Polri memadai.

            Dirinya berharap agar setiap kontingan dari masing-masing provinsi yang akan bertandang ke Papua untuk dapat mengambil bagian dalam PON XX bisa melibatkan aparat TNI/Polri terkait dengan koordinasi pengamanan mereka selama berada di Papua.

            Bupati Mimika Eltinus Omaleng menegaskan bahwa keamanan di wilayahnya cukup terjamin bagi semua kontingen yang akan mengikuti PON XX Papua di Timika. Omaleng mengakui hingga kini masih ada potensi gangguan keamanan oleh KST di Timika, terutama di distrik tembagapura dan kawasan Kali Kopi. Lokasi tersebut relatif sangat jauh dari pusat Kabupaten Timika.

            Pada kesempatan berbeda, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjend TNI Purn Teddy Lhaksmana Widya Kusuma mengatakan KST di Papua meningkatkan aksi teror, beberapa waktu teror bertujuan untuk menggagalkan pelaksanaan PON pada Oktober mendatang. Ia menyebutkan bahwa KST ingin menggagalkan PON demi menyita perhatian internasional.

            KST juga bermaksud menggagalkan PON untuk menciptakan instabilitas untuk menarik perhatian dunia.  Teddy mengatakan KST juga aktif melakukan teror secara khusus di wilayah Kabupaten Puncak, Papua. Mereka juga melakukan konsolidasi rutin berkenaan dengan TNI-Polri yang berjaga di wilayah tersebut.

            Teddy mengatakan bahwa BIN terus memberi dukungan kepada Satgas TNI-Polri untuk terus mengejar dan menumpas KST. Salah satunya denga memutus jaringan logistik. Badan Intelijen Negara telah melakukan pemetaan potensi kerawanan keamanan pada PON XX Papua mendatang. Setidaknya terdapat 4 wilayah yang melaksanakan pertandingan. Diantaranya ialah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Mimika dan juga Merauke.

            Dari pemetaan tersebut ditemukan beberapa potensi kerawanan, namun sudah dilakukan operasi gabungan  untuk mencegah serta memotong potensi-potensi tersebut agar tidak menjadi gangguan yang nyata.

            PON XX di Papua merupakan hajat besar dan menjadi kebanggaan bagi Papua serta Indonesia, sehingga keamanan pada pagelaran event tersebut haruslah dijaga. Hal yang perlu dilakukan adalah pola sistem pengamanan baik terbuka ataupun tertutup. Hal ini perlu dilakukan, menyusul adanya rencana kunjungan kepala negara beserta duta besar khususnya di wilayah Asia-Pasifik.

            Meskipun masyarakat Papua telah menyatakan siap terkait pelaksanaan acara akbar tersebut, tidak menutup kemungkinan gangguan bisa saja terjadi. Sehingga segala langkah dan upaya untuk menjaga kondusifitas di Papua harus tetap diwujudkan.

            Tentunya tidak ada toleransi bagi kelompok separatis yang terus merongrong negeri. Mereka mengatasnamakan warga Papua demi mendapatkan kemerdekaan. Padahal sebagian masyarakat bumi cenderawasih sendiri mengklaim bahwa dirinya merupakan bagian dari NKRI sampai kapanpun.

            Maka tidak mengherankan apabila kekerasan yang mereka lakukan, terindikasi adanya campur tangan pihak luar yang mengomando kelompok tersebut. Mulai dari pasokan senjata hingga pendanaan.            Pemberontakan maupun penolakan KST terhadap program pemerintah, memberikan bukti bahwa mereka tidak ingin melihat kemajuan tanah Papua. Pentolan mereka yang saat ini ada di luar negeri pun seakan tidak lelah membawa isu miring terkait apa yang terjadi di Papua.

PON XX merupakan hajat yang amat penting bagi Provinsi Papua karena gelaran pesta olahraga tersebut akan meningkatkan perekonomian masyarakat di kampung-kampung, serta menjadi bukti akan adanya upaya pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan.

Manuver kelompok separatis memang patut diwaspadai, jangan sampai event yang melibatkan atlet se-Indonesia tersebut terganggu oleh tingkah picik dari Kelompok Separatis Teroris (KST).

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta