Mendukung Tindakan Tegas Pelaku Provokasi Bernuasa SARA dan Ujaran Kebencian di Media

Mendukung Tindakan Tegas Pelaku Provokasi Bernuasa SARA dan Ujaran Kebencian di Media

Virtual police atau polisi virtual yang dikelola Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri terus bekerja menindak akun media sosial (medsos) yang melakukan pelanggaran UU ITE.

Dirtipidsiber Bareskrim Polri, Brigjen Slamet Uliandi mengatakan periode Februari 2021 hingga kini sudah ratusan akun ditindak dengan diberi peringatan karena menyebarkan konten berbau SARA. Disebutkan, virtual police telah memberikan peringatan teguran kepada ratusan akun media sosial yang dinilai melakukan pelanggaran UU ITE.

Slamet mengungkapkan jumlah teguran itu didapatkan sejak polisi virtual berpatroli pada 23 Februari sampai 3 Mei 2021. Dari ratusan akun medsos, sebanyak 274 diantaranya dinyatakan lolos verifikasi atau konten yang diajukan memenuhi unsur ujaran kebencian berdasarkan SARA.

Disebutkan medsos yang paling banyak ditemui pelanggaran SARA yakni Twitter disusul Facebook, lalu ada Instagram, YouTube, dan terakhir WhatsApp.

“Dari ratusan akun yang ditegur, sebanyak 48% patuh, 31% tidak patuh, dan 21% belum merespons,” jelas Slamet.

Sementara itu, Direktur COMTC (Center for Communication Studies and Training) Dosen Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora UIN Sunan Kalijaga, Bono Setyo mengatakan maraknya berita-berita berbau SARA, ujaran kebencian dan hoax di medsos dilakukan oleh orang atau kelompok yang tidak bertanggungjawab.

Menurut Bono di era digital sekarang ini, keberadaan medsos adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak mungkin tidak menghindar medsos. Medsos telah menjadi bagian dari kita.yang memiliki pengaruh sangat besar di seluruh bidang kehidupan masyarakat.

Di Indonesia saat ini, medsos memiliki jumlah pengguna yang sangat besar, sebaran penggunanya pun tersebar dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, dari usia anak-anak, muda bahkan sampai usia tua.

Berdasarkan data hasil “Indonesian Digital Report 2020” rilis dari HootSuite (We are Social) dapat diketahui bahwa dari total populasi (jumlah penduduk di Indonesia) adalah 272,1 juta, dari total populasi tersebut jumlah pengguna media sosial aktif sebanyak 160 juta (59%). Jumlah pengguna media social tersebut tersebar dalam berbagai platform antara lain: Youtube (88%), Whatsapp (84%), Facebook (82%), Instagram (79%).

Keberadaan dan perkembangan media social di masyarakat tersebut membawa dampak dan permasalahan baru. Oleh karena itu, perlu kajian mendalam dan komprehensif tentang penggunaan medsos dan dampaknya bagi masyarakat sehingga masyarakat dapat mengoptimalkan penggunaan medsos untuk hal positif dan menghidari penyalahgunaan.

Medsos seringkali disalahgunakan untuk kepentingan yang tidak pantas seperti pornografi bahkan kriminal. Selain itu, yang paling sering saat ini adalah medsos untuk penyampaian berita bohong (Hoax) dan ujaran kebencian (hate speech).

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tidak sampai 300 situs. Artinya, terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

Sementara itu data dari Kementrian komunikasi dan informasi (Kemenkominfo) menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar hoax.

Menurut Bono hoaks tidak bisa dilepaskan dari ujaran kebencian (hate speech). Dua hal itu seperti dua sisi mata uang yang sama. Beberapa isu atau tema hoaks dan ujaran kebencian antara lain SARA (suku, agama dan ras), politik, selebritis, kesehatan dan lainnya.

Diantara isu tersebut yang sering diviralkan menjadi berita/informasi hoaks adalah tema politik dan SARA. Kedua tema hoax ini sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan NKRI. Mengapa demikian? Politik sebagaimana diketahui selalu berkaitan dengan kekuasaan dan kekuasaan bagi manusia selalu menjadi ambisi dan bahan untuk diperebutkan. Tidak jarang perebutan kekuasaan berakhir dengan konflik bahkan chaos.

Lebih lanjut Bono mengatakan tema politik, selalu marak menjelang pemilu baik itu pilpres, pilgub, pilbup/walikota bahkan pilkades selalu muncul hoaks. Sedangkan SARA sesuatu yang sensitive dan resisten bila sampai dipertentangkan. Banyak konflik di Indonesia bersumber pada SARA.

Menurut Bono harus ada solusi dan langkah yang dapat dilakukan untuk membendung berkembangnya SARA dan ujaran kebencian di medsos.

Pertama, melakukan literasi (literacy media/digital) kepada masyarakat agar bijak dan cerdas dalam bermedia.

Kedua, membudayakan sikap klarifikasi mencari kejelasan tentang sesuatu hal agar jelas persoalannya dengan meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa memutuskan masalah, baik dalam hal hukum, agama, kebijakan publik, sosial-politik dan lainnya.

Ketiga, memblokir media-media yang melakukan provokasi, ujaran kebencian dan konten yang berbau SARA serta menindak tegas pelakunya. Hal ini dapat dilakukan oleh aparat terkait yang memiliki kewenangan seperti Kementrian Kominfo dan aparat Kepolisian untuk bertindak sesuai koridor hukum. (**)