Menteng, Jakarta - Indonesia

Pola Hidup Bersih Cegah Penularan Covid-19

Oleh : Nur Azizah )*

Sejak dahulu kala, pola hidup bersih terbukti dapat mencegah penularan penyakit. Pemerintah pun terus mengimbau warga untuk selalu menerapkan pola hidup bersih guna menekan laju penularan Covid-19.

Menerapkan pola hidup bersih, suatu hal yang wajib bagi kita sebagai manusia berakal. Dengan pola hidup yang bersih, di era pandemi Covid-19, tentu sangat ditekankan. Pasalnya, virus ini dapat ditangkal dengan cara selalu menjaga kebersihan pakaian, badan, tangan dan tempat tinggal.

Covid-19 dapat menyebar  melalui kontak dekat, dan lingkungan atau benda yang dihinggapi virus. Virus juga dapat menyebar melalui rintik yang berasal dari saluran pernapasan si penderita, seperti batuk, bersin dan saat berbicara. Setelah itu rintik tersebut akan menempel di lingkungan, karena rintik yang cukup berat akan jatuh ke permukaan alih-alih bertahan di udara. Untuk itulah perlu adanya berjaga jarak sekitar 1-2 meter dari penderita atau orang yang kemungkinan membawa virus.

Seseorang yang menyentuh sebuah benda yang ternyata terperciki oleh rintik air yang mengandung virus, kemudian menyentuh area wajah terutama mata, hidung dan telinga. Maka virus akan masuk ke dalam tubuh orang tersebut.

Covid-19 memiliki bentuk yang ditutupi menara runcing atau terlihat seperti mahkota. Pada mahkota tersebut terdapat lapisan terluar virus yang terdiri dari lemak. Lemak inilah yang akan larut saat bersentuhan dengan sabun. Virus juga dapat dinonaktifkan dengan sabun sehingga tidak dapat menginjeksi kulit manusia.

Alkohol yang terkandung dalam hand sanitizer dapat langsung menghancurkan dinding sel virus yang terbentuk dari protein. Alkohol akan mengurai dan menggumpalkan protein sehingga protein menjadi rusak.

Dalam Catatan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia, 93 persen masyarakat Indonesia telah memiliki kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air. Sisanya hanya mencuci tangan dengan air dan deterjen, sabun tanpa air dan air saja. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah memiliki kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air, kemudian pada masa wabah ini kebiasaan tersebut frekuensinya perlu ditingkatkan.

Dari sebuah penelitian, Coronavirus on Inanimate Surfaces and their Inactivation with biocidal agents. Journal of Hospital Infection oleh lembaga Biologi Molekuler Eijkman menginformasikan bahwa virus corona dapat bertahan hidup tanpa makan paling lama pada alumunium selama 2-8 hari, dan 4-5 hari pada plastik, kertas, kayu dan kaca.

Dalam masa pandemi Covid-19 ini penyemprotan desinfektan pada lingkungan dan perabot rumah juga diperlukan. Sejauh ini pemerintah pun telah melakukan hal tersebut dan menyediakan area cuci tangan di mana-mana dan melakukan himbauan pada seluruh pihak mulai dari pemda sampai kepala desa untuk melakukan penyemprotan desinfektan pada rumah-rumah.

Kementrian Kesehatan menuturkan bahwa semua perilaku kesehatan yang dilakukan dengan kesadaran diri pribadi sehingga keluarga dan semua anggotanya dapat menjaga kesehatan masing-masing serta memiliki peran aktif dalam aktifitas masyarakat adalah perilaku sehat yang sesungguhnya.

Beberapa indikator yang berkaitan dengan kebiasaan menjaga kesehatan meliputi rutin mengonsumsi buah dan sayur, berolahraga, cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir serta rajin membersihkan tempat penampungan air dan memberantas jentik nyamuk.

Menjaga kebersihan lingkungan, badan, tangan, pakaian dapat menunjang upaya pencegahan paparan Covid-19. Mari saling bekerja sama menangkal virus corona dengan membiasakan pola hidup bersih dan sehat serta terus melanggengkannya seumur hidup. Di samping itu menjaga kekebalan imun turut andil dalam pencegahan Covid-19.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Tangerang